<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sastra Arab UIN SGD Bandung</title>
	<atom:link href="http://akhbaruna.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akhbaruna.wordpress.com</link>
	<description>Forum Diskusi Antar Mahasiswa, Dosen, dan Alumni</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Aug 2009 15:02:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='akhbaruna.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sastra Arab UIN SGD Bandung</title>
		<link>http://akhbaruna.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://akhbaruna.wordpress.com/osd.xml" title="Sastra Arab UIN SGD Bandung" />
	<atom:link rel='hub' href='http://akhbaruna.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>BSA Punya Blog Baru</title>
		<link>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/08/07/bsa-punya-blog-baru/</link>
		<comments>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/08/07/bsa-punya-blog-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 15:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bsauinsgd</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[BSA]]></category>
		<category><![CDATA[sastra arab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhbaruna.wordpress.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[BSa kini tampil versi online. Blog yang beralamat di http://www.sastraarab.co.nr merupakan kumpulan tulisan-tulisan warga BSA. Baik mahasiswa, dosen, atau alumni. Sebagai ajang diskusi dan interaksi, blog ini menerima tulisan dari siapa pun warga BSA dan dalam bentuk apapun. Pengirimannya pun mudah, bisa via email ke sastra.arab@yahoo.co.id atau akses via facebook bagi warga BSA yang memiliki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akhbaruna.wordpress.com&amp;blog=5255421&amp;post=199&amp;subd=akhbaruna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BSa kini tampil versi online. Blog yang beralamat di http://www.sastraarab.co.nr merupakan kumpulan tulisan-tulisan warga BSA. Baik mahasiswa, dosen, atau alumni. Sebagai ajang diskusi dan interaksi, blog ini menerima tulisan dari siapa pun warga BSA dan dalam bentuk apapun. Pengirimannya pun mudah, bisa via email ke sastra.arab@yahoo.co.id atau akses via facebook bagi warga BSA yang memiliki facebook. Mari kita ramaikan blog BSA Online, demi BSA yang lebih baik dan cerdas. (reza/adv.)</p>
<p>Untuk mengakses, <a href="http://sastraarab.co.nr" target="_blank">klik disini.</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akhbaruna.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akhbaruna.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akhbaruna.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akhbaruna.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akhbaruna.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akhbaruna.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akhbaruna.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akhbaruna.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akhbaruna.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akhbaruna.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akhbaruna.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akhbaruna.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akhbaruna.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akhbaruna.wordpress.com/199/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akhbaruna.wordpress.com&amp;blog=5255421&amp;post=199&amp;subd=akhbaruna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/08/07/bsa-punya-blog-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4b9a64fc99723b3aefe773d1edccbdda?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">bsauinsgd</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Flu; Sebagai Guru Kebijakan</title>
		<link>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/06/15/flu-sebagai-guru-kebijakan/</link>
		<comments>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/06/15/flu-sebagai-guru-kebijakan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 13:44:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bsauinsgd</dc:creator>
				<category><![CDATA[refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[flu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhbaruna.wordpress.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Oleh :  Cecep Hasanuddin Sakit flu membut saya sulit untuk beraktivitas. Apalagi, sekarang saya sedang melaksanakan UAS. Padahal, dua hari yang lalu saya telah menghabiskan dua tablet obat flu. Itu pun atas saran sahabat saya. Sebenarnya, saya mau menghindari semua obat warung maupun obat apotek. Namun, daya saya tak sampai untuk menghindarinya. Tekadang, saya ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akhbaruna.wordpress.com&amp;blog=5255421&amp;post=195&amp;subd=akhbaruna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p><strong>Oleh :  Cecep Hasanuddin</strong></p>
<p>Sakit flu membut saya sulit untuk beraktivitas. Apalagi, sekarang saya sedang melaksanakan UAS. Padahal, dua hari yang lalu saya telah menghabiskan dua tablet obat flu. Itu pun atas saran sahabat saya. Sebenarnya, saya mau menghindari semua obat warung maupun obat apotek. Namun, daya saya tak sampai untuk menghindarinya.</p>
<p>Tekadang, saya ketika dilanda semacam flu, hal pertama yang saya lakukan adalah mengambil sapu tangan atau yang sejenisnya. Karena kalau tidak seperti itu, ketika saya batuk,bersin,maka segala kotoran akan keluar secara sembarangan. Bagi saya, flu membuat tidak nyaman dan bekerja pun menjadi kurang konsentrasi. Sedikit-sedikit, ketika air yang ada di hidung saya hendak keluar, maka saya sudah siap membuat tarikan kencang.”Srekk…srek..</p>
<p><span id="more-195"></span>Dengan seperti itu, saya agak sedikit nyaman. Karena berhasil melampiaskan sekaligus membuang jauh-jauh segumpal penyakit. Memang terlihat kurang sopan bagi sebagian orang, namun bagi saya, hal seperti itu adalah seperti kembali ke masa kecil. Tak apalah, hitung-hitung bernostalgia dengan masa lalu. Tapi, ingat, bukan berarti saya kekanak-kanakan. Tidak sama sekali. Sumpah!!</p>
<p>Itu semua saya lakukan atas dasar kesadaran pribadi, dan tidak membawa organisasi manapun atau pun dari partai tertentu. Sekali lagi tidak!! Karena jika saya tidak melakukan itu pun, saya tetap akan menuliskannya. Tentunya sebatas pengetahuan saya. Misalnya, Anda tidak bisa mengukur sejauh mana pengetahuan saya, maka Anda cukup berimajinasi tentang saya. Anda harus merasa yakin itu.</p>
<p>Flu memang sebuah problem. Problem ini akan berlanjut jika kita kurang perhatian terhadapnya. Apapun butuh perhatian di dunia ini. Tanpa perhatian, seorang Gadis yang lagi kasmaran, akan merasa hampa, dan akhirnya terputus tanpa status. Begitu pun dengan yang namanya flu, sangat butuh untaian perasaan dan sumbangsih, tentunya dari pihak yang terkena gejala flu.</p>
<p>Maaf sekali lagi, sudah saya katakan sebelumnya, bahwa dua hari yang lewat, saya sudah menelan dua pil Sanaflu. Tapi, flu yang ada, belum juga beranjak pergi. Saya hanya berbaik sangka saja,”oh..ternyata masih betah dengan saya, Dia belum mau pindah ke lain hati,”. Itu saja yang saya ucapkan. Tidak banyak. Bagi saya, lebih baik berkata sedikit dari pada berkata banyak tidak juga sembuh. Nah, selama dua hari itu, ibaratnya saya sedang terkena sindrom. Saya pun kurang mengerti apa itu makna sindrom. Ketika kata itu melintas di kepala saya, saya langsung menuliskannya. Karena kalau berlama-lama berpikir kata apa yang terbagus yang ingin saya tulis, maka sulit bagi saya meneruskan sebuah tulisan. Kalau tidak percaya, silakan coba!!</p>
<p>Kembali ke masalah  yang sedang saya alami saat ini. Flu. Jangan sekali-kali menganggap enteng tentang flu. Sering orang selintas berkata,”Wah..hanya flu!”. Mudah sekali mengatakan seperti itu, mungkin saja, kebetulan orang itu, kurang menghayati apa yang sedang terjadi pada orang lain. Istilahnya, kurang begitu empati. Menghadapi tipe orang yang semacam ini, perlu kesabaran exstra. Saya pun kurang begitu yakin kalau anda, misalnya, kebetulan terkena flu kemudian ada salah satu teman anda ada yang mengatakan seperti di atas, lantas anda tidak tersinggung dengan ucapannya. Yang pasti, perasaan sakit hati itu ada.</p>
<p>Sekarang tingggal bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita menganggapnya sebagai angin lalu saja, kemudian tanpa berpikir negatif untuk membalasnya. Atau malah kita memasang strategi jitu untuk membalasnya. Hingga anda merasa, dalam perasaan anda,”saya pun bisa menghina seperti itu!”. Akhirnya, kontrol emosi anda pun tidak terkendali lagi. Kata-kata yang ada di kebun binatang Ragunan pun diumbar bebas. Adu fisik terjadi. Anda salah, mereka pun kurang mengerti.</p>
<p>Memang sulit untuk bertindak bijak. Apalagi dalam keadaan yang sangat tertekan sekali pun. Perlu kontrol emosi, perlu berpikir dalam, tentang apa yang akan terjadi setelah kita bertindak. Ini hanya persoalan flu, belum yang lain. Padahal, kalau kita sadar, persoalan yang lebih berat sedang menunggu di luar sana. Mungkin ada baiknya jika saya mengutip sebuah mahfudzat yang mengajarkan kebijakan. Begini kira-kira dalam bahasa Indonesianya,”Berpikirlah sebelum anda bertindak”.</p>
<p>Kalimat itu memang diketahui sebagai pisau kebijakan. Kalimat itu pun tidak bermakna bijak, jika kita dalam segala tindakan kurang memperhatikan aspek berpikir jernih. Saya pun sungguh menyadari, persoalan apapun, seringan, dan seberat apapun, semuanya butuh proses. Proses yang baik, saya meyakini hasinya pun akan baik. Kita jadikan flu sebagai guru kebajikan dan kebijakan.</p>
<p>*) Penulis, mahasiswa BSA 2006</p></div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akhbaruna.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akhbaruna.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akhbaruna.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akhbaruna.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akhbaruna.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akhbaruna.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akhbaruna.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akhbaruna.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akhbaruna.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akhbaruna.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akhbaruna.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akhbaruna.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akhbaruna.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akhbaruna.wordpress.com/195/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akhbaruna.wordpress.com&amp;blog=5255421&amp;post=195&amp;subd=akhbaruna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/06/15/flu-sebagai-guru-kebijakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4b9a64fc99723b3aefe773d1edccbdda?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">bsauinsgd</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Website BSA Tampil Lebih Fresh</title>
		<link>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/05/31/website-bsa-tampil-lebih-fresh/</link>
		<comments>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/05/31/website-bsa-tampil-lebih-fresh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 09:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bsauinsgd</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[sastra arab]]></category>
		<category><![CDATA[website]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhbaruna.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Kini, website BSA tampil lebih fresh dan lengkap. Website yang beralamat di http://sastraarab.co.nr ini memiliki itur yang lebih lengkap. Salah satunya adalah polling yang secara berkala akan dikupas dalam blog atau forum. Selain website tersebut, keluarga BSA dapat mengakses blog BSA di http://akhbaruna.wordpress.com atau forum BSA di http://forumbsa.omgforum.net. Jadi, kini semakin banyak media penyampai aspirasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akhbaruna.wordpress.com&amp;blog=5255421&amp;post=193&amp;subd=akhbaruna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kini, website BSA tampil lebih fresh dan lengkap. Website yang beralamat di http://sastraarab.co.nr ini memiliki itur yang lebih lengkap. Salah satunya adalah polling yang secara berkala akan dikupas dalam blog atau forum. Selain website tersebut, keluarga BSA dapat mengakses <a title="Blog BSA" href="http://akhbaruna.wordpress.com" target="_blank">blog BSA</a> di http://akhbaruna.wordpress.com atau <a title="Forum BSA" href="http://forumbsa.omgforum.net" target="_blank">forum BSA</a> di http://forumbsa.omgforum.net. Jadi, kini semakin banyak media penyampai aspirasi di BSA. Selain itu, diharapkan semua civitas akademika BSA memberikan kontribusi positifnya, dengan mengirimkan tulisan atau idenya. (Reza/adv.)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akhbaruna.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akhbaruna.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akhbaruna.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akhbaruna.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akhbaruna.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akhbaruna.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akhbaruna.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akhbaruna.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akhbaruna.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akhbaruna.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akhbaruna.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akhbaruna.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akhbaruna.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akhbaruna.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akhbaruna.wordpress.com&amp;blog=5255421&amp;post=193&amp;subd=akhbaruna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/05/31/website-bsa-tampil-lebih-fresh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4b9a64fc99723b3aefe773d1edccbdda?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">bsauinsgd</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyoal Teori Amil Dalam Nahwu</title>
		<link>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/05/28/menyoal-teori-amil-dalam-nahwu/</link>
		<comments>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/05/28/menyoal-teori-amil-dalam-nahwu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 01:28:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bsauinsgd</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[&#039;Amal]]></category>
		<category><![CDATA[&#039;Amil]]></category>
		<category><![CDATA[Ma&#039;mul]]></category>
		<category><![CDATA[Nahwu]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Amil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhbaruna.wordpress.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Wildan Taufiq, M.Hum. Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung A. Pendahuluan Sebagai bagian dari rumpun Semit, bahasa Arab memiliki karakteristik bahasa semitik yaitu i’rab.[1]I’rab adalah perubahan akhir kalimat (kata) karena bermacam-macam ‘amil yang masuk padanya, baik lafazh atau taqdir (diperkirakan)[2] (Ibn Âjurûm, tth: 5). Sebagai contoh adalah kata القَلَم [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akhbaruna.wordpress.com&amp;blog=5255421&amp;post=186&amp;subd=akhbaruna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Oleh : Wildan Taufiq, M.Hum.</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Dosen Fakultas Adab dan Humaniora</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>UIN Sunan Gunung Djati Bandung</strong></p>
<p><strong>A. Pendahuluan</strong></p>
<p>Sebagai bagian dari rumpun Semit, bahasa Arab memiliki karakteristik bahasa semitik yaitu i’rab.[1]I’rab adalah perubahan akhir kalimat (kata) karena bermacam-macam ‘amil yang masuk padanya, baik lafazh atau taqdir (diperkirakan)[2] (Ibn Âjurûm, tth: 5). Sebagai contoh adalah kata القَلَم (pulpen)pada kalimat-kalimat berikut:</p>
<p>القَلَمُعَلَى المَكْتَبِ    (Pulpen di atas meja)<br />
اشْتَرَيْتُ القَلَمَ  (Saya membeli pulpen)<br />
كَتَبْتُ بِالقَلَمِ  (Saya menulis dengan pulpen)</p>
<p><span id="more-186"></span>Mari kita perhatikan I’rab kata القَلَم pada ketiga kalimat di atas. Pada kalimat pertama kata, kata القَلَم yang berkedudukan sebagai mubtada (subjek) diakhiri<br />
dengan harakat dhamah. Pada kalimat kedua kata القَلَم yang berkedudukan sebagai maf’ul bih (objek) diakhiri dengan harakat fatah, sedang pada kalimat ketiga, kata القَلَم yang berkedudukan sebagai hal (keterangan) diakhiri dengan harakat dengan kasrah.</p>
<p>Menurut ulama nahwu, salah satunya Ibn Malik (tth: 31) menyatakan<br />
bahwa terjadi perubahan harakat akhir kata (I’rab) tersebut karena adanya ‘amil (yang memerintah). ‘Amil pada kata القَلَم yangpertama yangdiakhiri dengan harakat dhamah (sebagai mubtada) adalah ibtida (permulaan).[3] Artinya karena ia berada pada permulaan kalimat. Pada kalimat kedua di mana kata القَلَم menjadi maf’ul bih (objek), yang menjadi ‘amilnya adalah fi’il (اشْتَرَى)[4] atau fi’il dan fa’il (اشْتَرَيْتُ)[5].</p>
<p>Adapun ‘amil pada kalimat ketiga adalah haraf jar, yaitu ba (ب).<br />
Pada kalimat pertama, jika posisi mubtadanya diletakkan<br />
setelah khabar (muakhar) menjadi: عَلَى المَكْتَبِقَلَمٌ ,di manakah letak ‘amilnya? Karena sekarang mubtada tidak ada dalam posisi di awal (ibtida), tetapi di akhir (ta’khir). Berangkat dari permasalahan itu, apakah adanya ‘amil sebuah keharusan? Apakah ‘amil berperan dalam menentukan makna kata? Apakah seseorang bisa menentukan I’rab suatu kata hanya dengan mengetahui fungsi atau kedudukan kata tersebut dalam kalimat (mubtada, khabar, maf’ul bih dsb.), tanpa harus mengetahui terlebih dahulu mana ‘amilnya?</p>
<p>Inilah yang akan menjadi tema pembahasan dalam diskusi ini,<br />
yaitu mengenai relevankah teori ‘amil dalam kajian nahwu, terutama dalam<br />
pengajaran nahwu.</p>
<p><strong>B.Pengertian dan Sejarah ‘Amil</strong></p>
<p>‘Amil secara bahasa adalah “yang mempengaruhi” (al-muatstsir), sedang secara istilah a’mil adalah sesuatu yang mengharuskan akhir kata beri’rab  tertentu (Al-Hasyimi, tth:74)[6]; ‘Alâmah (1993:37([7]; ‘Abbas Hasan (tth:I:75)[8];  Ghalayaini (1987: 272)[9]</p>
<p>Mengenai ‘amil, Sibawaih hanya menyebut 14 kali dalam kitab-nya, di antaranya mengenai definisi ‘amil:”Aku hanya berkata kepadamu bahwa ada delapan ‘majari’ (i’rab) yang akan aku uraikan ketika salah satu dari keempat (dari delapan) dimasuki sesuatu yang bisa menimbulkan perubahan yang disebut dengan ‘amil (Abdussalam: 1991: 13). Dari pandangan Sibawaih inilah<br />
pengertian ‘amil berkembang sampai sekarang.</p>
<p>Teori ‘amil lahir dari pemikiran Khalil bin Ahmad al-Farahidiy (100-175 H), yang merupakan guru besar (al-Ustadz al-Akbar) bagi Sibawaih.[10] Khalil<br />
dikenal sangat menguasai logika Aristoteles.[11] Dengan demikian, teori ‘amil sangat dipengaruhi oleh filsafat. Ia berusaha menguraikan fenomena-fenomena kebahasaan dengan perspektif filsafat, salah satunya adalah pemikiran kausalitas (sababiyyah). Dalam pandangan ini, segala sesuatu yang “ada” di muka bumi ini mengharuskan “pengada”. Begitu pula dengan fenomena perubahan akhir kata atau i’rab, mengharuskan ada sesuatu “yang<br />
menyebabkan” hal itu terjadi. Maka Khalil menamakan penyebab itu dengan ‘amil (yang berbuat) (‘Alamah, 1993:37-38).</p>
<p><strong>C. Macam-macam ‘Amil</strong></p>
<p>Al-Ghalayaini (1987: 4) membagi ‘amil menjadi dua bagian[12]:<br />
1.      ‘Amil lafzhi, yaitu amil yang berbentuk lafazh, seperti isim-isim, fi’il atau haraf.<br />
2.      ‘Amil ma’nawi, yaitu amil yang tidak berbentuk lafazh, artinya ada pengaruh (terhadap i’rab) tapi tidak ada bentuknya. Amil ini biasanya hanya merofakan saja. Contohnya adalah ‘amil yang merofakan mubtada.</p>
<p>Kekosongan (tajarrud) dari ‘amil lafzhi merupakan penyebab maknawi bagi rofanya mubtada dan fi’il mudhari.[13]</p>
<p><strong>D. ‘Amil, Ma’mul dan ‘Amal</strong></p>
<p>Dalam kaitannya dengan ‘amil, terdapat dua istilah yang merupakan rangkaian yang tidak dispisahkan satu sama lain, yaitu ma’mul dan amal. Ma’mul adalah kata yang bagian akhirnya berubah baik dengan rofa, nashab, jazam, atau khafadh karena pengaruh amil (Ghalayaini, 1987:274).[14]<br />
Ma’mul terbagi dua, ma’mul asli (ashalah) dan ma’mul turunan (taba’yyah). Ma’mul asli ialah ma’mul yang dipengaruhi oleh amil secara langsung, seperti fa’il dan naibul fa’il, mubtada dan khabar, isim fi’il naqish dan khabarnya, isim inna dan akhwatnya serta khbarnya, maf’ul-maf’ul, hal, tamyiz, mustatsna, mudhaf ilaih, dan fi’il mudhari ) Ibid: 275).[15]</p>
<p>Sedang ma’mul turunan (tabaiyyah) ialah kata yang dipengaruhi ‘amil dengan perantara kata yang diikutinya, seperti naat, athaf, taukid, dan badal. Tawabi itu dirofakan, dinashabkan, dijarkan, dan dijazamkan karena mengikuti katasebelumnya yang dirofakan dinashabkan, dijarkan, dan dijazamkan. Dan yangmenjadi amil ialah kata yang diikutinya (matbu’) (Ibid). Adapun ‘amal ialah efek (atsar) yang dihasilkan dari pengaruh amil, yaitu<br />
berupa i’rab rofa, nashab, khafadh, atau jazam (Ibid).</p>
<p><strong>E. Fungsi ‘Amil</strong><br />
Mengenai fungsi ‘amil, Dr. Mohamed El Mukhtar Ould Bah (1996: 31) mengatakan bahwa ‘amil berfungsi sebagai dasar untuk menafsirkan sistem i’rab dan sebagai media penegasan kaidah-kaidah yang memiliki implikasi pada penggunaan kias dan penggalian ‘illat-‘illat.</p>
<p>Senada dengan Dr. Ould Bah, Abdul Karim al-Ra’idh (1988:319) mengungkapkan bahwa fungsi ‘amil adalah untuk menafsirkan fenomena i’rab. Yaitu untuk menafsirkan hubungan antara perubahan akhir kata<br />
dengan perubahan makna serta kedudukannya dalam struktur kalimat.</p>
<p><strong>F. Pandangan Ulama Nahwu tentang ‘Amil. </strong></p>
<p>Pada awal kemunculannya, kajian nahwu hanya membahas seputar pencatatan data-data kebahasaan (bahasa Arab) serta menginduksinya, yang akhirnya menghasilkan teori salah satunya teori i’rab serta tanda-tanda (‘alamat). Pada periode selanjutnya adalah periode pencarian sebab dan alasan (‘illat) bagi teori yang telah ditemukan sebelumnya seperti teori i’rab (Al-Ra’idh, 1988:319).</p>
<p>Di antara para ulama yang bekerja keras pada periode ini adalah Imam Khalil<br />
Ahmad al-Farahidi dan muridnya Sibawaih. Mereka telah mengahasilkan teori ‘amil sebagai tafsiran fenomena i’rab dalam tata bahasa Arab.<br />
Pada periode selanjutnya teori ‘amil yang dicetuskan Khalil, dikembangkan</p>
<p>oleh para ulama nahwu serta dijadikan teori “mutlak” bagi kajian nahwu, seperti yang dilakukan Ibn Malik dan Ibn Ajurum. Dan awal abad ke-11 M. seorang ulama nahwu, yang bernama Abdul Qahir Al-Jurjani menyusun sebuah kitab yang ia beri judul Awamil al-Jurjani di mana secara khusus membahas masalah ‘amil.</p>
<p>Namun demikian, sebuah pemikiran walau dari orang yang dianggap lebih<br />
unggul dan lebih dahulu di bidangnya tidak akan selalu mudah diterima oleh oleh<br />
para orang-orang yang lahir setelahnya. Begitu juga dengan teori ‘amil, tidak<br />
semua ulama nahwu menerima pemikiran para pendahulunya. Di antara ulama yang menolak teori ‘amil adalah Ibn Jinni (330-392 H) , seorang ulama nahwu besar setelah Sibawaih. Ia berpendapat bahwa sebenarnya yang merafakan, menashabkan, men-jar-kan, dan menjazamkan kata  ialah si<br />
mutakallim (pembicara) sendiri, tidak oleh sesuatu yang lain (Al-Qurthubi, tth:77).</p>
<p>Pendapat Ibn Jinni ini kemudian diikuti oleh Ibn Madha al-Qurthubi, seorang ulama nahwu dari Andalusia. Bahkan ia menambahkan bahwa ‘amil bagi i’rab semua kata adalah Allah swt., sebagaimana pada hakikatnya semua perbuatan manusia adalah ciptaan Allah swt (Ibid).  Al-Anbari (1993: 46) menyanggah pendapat Ibn Jinni serta Ibn Madha dengan menegaskan bahwa ‘amil sebenarnya berupa “penujukan” (amarat wa dalalat) seperti “penunjukan” sesuatu yang terbakar akan adanya api. Penunjukan itu bisa terjadi ketika ada penunjuknya atau tidak ada. Analogi lain adalah jika seseorang ingin membedakan dua buah baju. Kemudia ia mencelup salah satunya, maka baju yang tidak dicelup sama posisinaya dengan baju yang dicelup.</p>
<p>Di antara para ulama nahwu ada yang melakukan kompromi salah satunya adalah al-Rahi. Ia berpendapat bahwa penyebab setiap makna dalam kata ialah si pembicara, begitu pula pembuat tanda-tanda (I’rabnya). Namun kemudian penandaan kata dengan ciri-ciri I’rab itu dipindahkan ke kata sebagai media yang mana ada di dalamnya. Dengan begitu predikat ‘amil yang ada pada mutakalim (manusia) pindah ke kata (bahasa) (Al-Ra’idh, 1988:371).</p>
<p><strong>G. Penutup</strong></p>
<p>Sebagai sebuah pemikiran filosofis, penulis melihat teori ‘amil adalah suatu hasil usaha yang luar biasa dari para perintis kajian tata bahasa Arab atau nahwu. Mereka berusaha sekuat tenaga menyusun teori-teori bahasa agar bahasa Arab bisa difahami dengan benar, yang mana tujuan mereka adalah untuk memahami kitab suci al-Qur’an.</p>
<p>Para ulama nahwu perintis mencoba mencari dasar-dasar teori nahwu yaitu berupa hukum-hukum dalam bahasa Arab. Hukum pada hakikatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam suatu hubungan sebab-akibat (kausalitas) (Suriasumantri,1996:145).  Ditemukannya huruf-huruf yang menashabkan<br />
dan menjazamkan fi’il mudhari merupakan suatu hasil perintiasan teori-teori<br />
dalam ilmu nahwu.</p>
<p>Namun demikian tidak semua teori akan selalu kokoh tanpa cela. Pada<br />
‘amil-amil maknawi, misalnya ‘amil rafanya mubtada adalah ibtida. Jika<br />
mubtadanya mu’akhar, dimanakah letak ‘amilnya (ibtidanya)? Salah satu kasus ini menunjukan bahwa teori ‘amil tidak sepenuhnya ajeg.</p>
<p>Jika pemikiran seperti ‘amil maknawi ini terus diterima dan diajarkan,<br />
penulis kiran adalah suatu kesia-sian saja, terutama bagi para pemula yang<br />
mengkaji tata bahasa Arab. Karena dalam pandangan penulis fungsi I’rab adalah untuk menandai fungsi sintaksis kata dalam kalimat, apakah sebagai mubtada (subjek), khabar (predikat), maf’ul bih (objek) dan sebagainya. Misalnya pada kalimat ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْراً kita bisa langsung dapat memahami peran sintaksisnya, Zaid sebagai pelaku karena sebagai mubtada, sedangkan Amar sebagai sasaran karena sebagai objek. Dengan demikian tanpa mengetahui ‘amil-ma’mul dari kalimat tersebut, makna kalimatnya sudah bisa ditangkap.<br />
Kekurang urgensian kedudukan ‘amil dalam kajian nahwu, juga telah ditegaskan Tamam Hassan (1994: 231). Ia berpendapat bahwa untuk memahami makna suatu kalimat cukup dengan memahami qarinah-qarinah (indikator-indikator) yang ada di dalamnya. Dengan demikian menurutnya, tidak perlu lagi memakai teori ‘amil.</p>
<p>Dengan demikian, penulis berkesimpulan bahwa teori ‘amil jika dilihat<br />
dari sudut efektivitas dan efisiensi pemahaman kalimat, tidak perlu lagi<br />
digunakan. Teori ‘amil hemat penulis hanya berlaku bagi huruf-huruf yang ketika masuk sebuah kata dan bisa mengubah i’rabnya seperti haraf nawasib, jawazim, dan haraf jar.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong><br />
Hassan, Tamman. 1994. Al-Lughah al-‘Arabiyyah Ma’naha wa Mabnaha. Maroko:<br />
Dar Al-Tsaqafah.</p>
<p>Harun, Abdussalalam (Ed.), 1991, Kitab<br />
Sibawaih,, Beirut,<br />
Dazr al-Jail.</p>
<p>Ibn Âjurûm, tth. “Matn al-Ajurumiyyah” dalam Ahmad Zaini Dahlan.Syarh Mukhtashar Jiddan ‘ala Matn al-Ajurumiyyah. Semarang: Maktabah Usaha Keluarga.</p>
<p>Al-Anbari, Kamaluddin Abi<br />
al-Barakat. 1993. Al-Inshaf fi Masaili al-Khilaf baina al-Nahwiyyin<br />
al-Bashriyyin wa al-Kufiyyin. Beirut:<br />
Al-Maktabah al-‘Ashriyyah.</p>
<p>Ibn Malik.  tth.. Alfiyyah dalam Ibnu ‘Aqil Syarh<br />
al-‘Allahmah Ibn ‘Aqil ‘ala Alfiyyah Jamaluddin Muhammad bin Abdullah bin<br />
Malik. Indonesia:<br />
Maktabah Nur Asia.</p>
<p>Al-Hasyimi, As-Sayyid<br />
Ahmad. tth.. Al-Qawa’id al-Asasiyyah li al-Lughah al-‘Arabiyyah. Jakarta: Dinamika Berkat Utama.</p>
<p>‘Alâmah, Thilal. 1993. Tathawwur al-Nahwi al-‘Arabiy fi<br />
Madrasatai al-Bashrah wa al-Kufah. Beirut:<br />
Dar al-Fikri al-Lubnaniyyah.</p>
<p>Hasan, ‘Abbas. tth. Al-Nahw al-Wafi.<br />
Ghalayaini, Al-Syaikh<br />
Mushthafa.  1987. Jami’u al-Durus<br />
al-‘Arabiyyah.Beirut:<br />
Al-Maktabah al-‘Ashriyyah.</p>
<p>Ould Bah, Mohamed El Mukhtar. 1996. Tarikh al-Nahw al-‘Arabiy fi<br />
al-Masyriq wa al-Maghrib. ttp: Masyurat al-Munazhzhamah al-Islamiyyah li<br />
al-Tarbiyyah wa al-‘Ulum wa al-Tsaqafah.</p>
<p>Al-Ra’idh, Abdul Wakil Abdul Karim. 1988. Zhahirat al-I’rabfi<br />
al-‘Arabiyyah. Tripoli:<br />
Jam’iyyah al-Da’wah al-Islamiyyah al-‘Alamiyyah.</p>
<p>Al-Jurjani, Abdul Qahir. tth.. Awamil al-Jurjani dalam Mushtafa<br />
al-Fathani Tashil al-Amani fi Syarh ‘Awamil al-Jurjani. Indonesia: Syirkah Nur Asia.</p>
<p>Al-Qurthubi, Ibn<br />
Madha, tth. Al-Radd ‘ala al-Nuhat. Kairo: Dar al-Ma’arif.<br />
Qaddur, Ahmad Muhammad. 1993. Madkhal ila Fiqh al-Lughah<br />
al-‘Arabiyyah. Libanon: Dar al-Fikri al-Mu’ashir.</p>
<p>Suriasumantri, Jujun S. 1996. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar<br />
Populer. Jakarta:<br />
Sinar Harapan.</p>
<p>________________________________</p>
<p>[1] I’rab telah menjadi karakteristik bahasa-bahasa Semit yang paling tua. Dalam<br />
bahasa Arab, I’rab merupakan pengembangan dari bahasa Semit pertama. Sampai<br />
sekarang bahasa Arab menjadi bahasa Semit yang paling kaya dalam pemilikan<br />
I’rab (Qaddur, 1993:29)<br />
[2] الإعراب<br />
هو تغيير أواخر الكلم لاختلاف العوامل الدّاخلة عليها لفظا أو تقديرا (ابن آجروم)<br />
[3]ورفعوا مبتدأ بالابتداء #  كذاك رفع خبر بالمبتداء (Para ulama Nahwu Bashrah merafakan<br />
mubtada karena” ibtida”, begitu pula merafakan khabar dengan mubtada)<br />
[4] Menurut<br />
madzhab Bashrah (Al-Anbari, 1993: 79).<br />
[5] Menurut<br />
madzhab Kufah (Al-Anbari, 1993: 78).<br />
[6] العامل<br />
فى اللغة المؤثر وفى اصطلاح النحاة ما أوجب كون آخر الكلمة على وجه خاصّ من<br />
الإعراب.<br />
[7] العامل<br />
هو السبب الموجب للتغيير فى الأواخر من الكلمات المتحدّث عنه مع التعليل.<br />
[8] العامل هو ما يؤثر فى اللفظ تاثيرا ينشأ عنه العلامة إعرابية<br />
ترمز إلى معنى خاص كالفاعلية أو المفعولية أو غيرهما.<br />
[9] ما<br />
يحدث الرفع  أو النصب أو الجزم أو الخفض<br />
فيما يليه.<br />
[10] Karena dalam al-kitab karyanya,<br />
sangat banyak ditemukan ide-ide Khalil.<br />
[11] Khalil<br />
mempelajari logika Aristotels dari buku terjemahan sahabat karibnya, Ibn<br />
Muqaffa.<br />
[12] Sejalan<br />
dengan pandangan Al-Ghalayaini, seorang ulama nahwu yang hidup awal abad ke-10,<br />
Abdul Qahir Al-Jurjani, menyebutkan bahwa amil dalam bidang nahwu berjumlah<br />
seratus, yang terbagi ke dalam dua kategori besar, ‘amil-amil lafzhi dan<br />
maknawi. Amil-amil lafzhi terbagi dua, simaiy dan qiyasiy. Sima’iy berjumlah<br />
kurang lebih sembilan puluh satu amil yang terbagi ke dalam tiga belas macam.<br />
Qiyasiy berjumlah tujuh amil. Adapun ‘amil maknawi berjumlah dua amil<br />
(Al-Fathani, tth: 4-5).<br />
[13]Menurut Sayyid Ahmad al-Hasyimi,<br />
‘amil maknawi terbagi ke dalam dua bagian: (1) Ibtida, yaitu posisi di<br />
awal kalimat seperti mubtada yang tidak ada kata yang mendahuluinya lagi dan<br />
(2) Tajarrud, yaitu keadaan kosong seperti fi’il mudhari ketika tidak<br />
dimasuki ‘amil nawashib dan ‘amil jawazim (Al-Hasyimi, tth:74).</p>
<p>[14] المعمول<br />
هو ما يتغيّر آخره برفع أونصب أوجزم أو خفض بتأثير العامل فيه.<br />
[15] Mubtada menjadi ‘amil karena<br />
merofakan khabar; dan menjadi ma’mul karena kosong dari amil-amil lafzhi karena<br />
ada di permulaan (ibtida). Mudhaf menjadi ‘amil karena men-jar-kan<br />
mudhaf ilaih; dan ia menjadi ma’mul karena ia dirofakan, dinashabkan, dan<br />
dijarkan berdasarkan ‘amil-‘amil yang masuk padanya. Sedang fi’il mudhari dan<br />
menyerupainya (kecuali isim fi’il) menjadi ‘amil untuk kata yang terletak setelahnya<br />
dan menjadi ma’mul bagi kata yang mendahuluinya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akhbaruna.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akhbaruna.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akhbaruna.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akhbaruna.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akhbaruna.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akhbaruna.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akhbaruna.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akhbaruna.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akhbaruna.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akhbaruna.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akhbaruna.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akhbaruna.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akhbaruna.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akhbaruna.wordpress.com/186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akhbaruna.wordpress.com&amp;blog=5255421&amp;post=186&amp;subd=akhbaruna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/05/28/menyoal-teori-amil-dalam-nahwu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4b9a64fc99723b3aefe773d1edccbdda?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">bsauinsgd</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BSA Punya Forum Baru</title>
		<link>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/05/08/bsa-punya-forum-baru/</link>
		<comments>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/05/08/bsa-punya-forum-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 15:02:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bsauinsgd</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[forum]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[sastra arab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akhbaruna.wordpress.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Sastra Arab kini memiliki ruang maya yang lebih interaktif dan komunikatif. Forum yang terbuka untuk semua kalangan, khususnya mahasiswa, dosen, staf, dan alumni Sastra Arab UIN Bandung ini beralamat di http://forumbsa.omgforum.net atau langsung klik pada taut yang tersedia di halaman Forum pada website ini. Semoga dengan Forum baru ini, mahasiswa mengurangi intensitas teriakannya demi menyerukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akhbaruna.wordpress.com&amp;blog=5255421&amp;post=179&amp;subd=akhbaruna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sastra Arab kini memiliki ruang maya yang lebih interaktif dan komunikatif. Forum yang terbuka untuk semua kalangan, khususnya mahasiswa, dosen, staf, dan alumni Sastra Arab UIN Bandung ini beralamat di <a href="http://forumbsa.omgforum.net" target="_blank">http://forumbsa.omgforum.net</a> atau langsung klik pada taut yang tersedia di halaman <a href="http://forumbsa.omgforum.net" target="_blank">Forum</a> pada website ini. Semoga dengan Forum baru ini, mahasiswa mengurangi intensitas teriakannya demi menyerukan aspirasi, khusunya untuk ditujukan pada  seluruh birokrat jurusan Sastra Arab. (reza/adv.)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akhbaruna.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akhbaruna.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akhbaruna.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akhbaruna.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akhbaruna.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akhbaruna.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akhbaruna.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akhbaruna.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akhbaruna.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akhbaruna.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akhbaruna.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akhbaruna.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akhbaruna.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akhbaruna.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akhbaruna.wordpress.com&amp;blog=5255421&amp;post=179&amp;subd=akhbaruna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akhbaruna.wordpress.com/2009/05/08/bsa-punya-forum-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4b9a64fc99723b3aefe773d1edccbdda?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">bsauinsgd</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
